Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) atau yang dikenal dengan
SH Terate adalah suatu persaudaraan "perguruan" SILAT
yang bertujuan mendidik dan membentuk manusia berbudi luhur,tahu benar
dan salah, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, mengajarkan kesetiaan
pada hati sanubari sendiri serta mengutamakan persaudaraan antar warga
(anggota) dan berbentuk sebuah organisasi
yang merupakan rumpun/aliran Persaudaraan Setia Hati (PSH). SH Terate
termasuk salah satu 10 perguruan silat yang turut mendirikan ikatatan pencak silat indonesia (IPSI) pada konggres pencak silat tanggal 28 Mei 1948 di
surakarta. Cabang SH Terate tersebar di 200 kota/kabupaten di Indonesia dan komisariat luar negeri di malaysia, belanda, rusia (Moskow), timor leste, hongkong, korea selatan, japang, belgia dan perancis, dengan keanggotaan (disebut Warga)
1. Segi empat panjang
- Bermakna Perisai.
2. Dasar Hitam
- Bermakna kekal dan abadi.
3. Hati putih bertepi merah
- Bermakna cinta kasih ada batasnya.
4. Merah melingkari hati putih
- Bermakna berani mengatakan yang ada dihati/kata hati
5. Sinar
- Bermakna jalannya hukum alam/hukum kelimpahan
6. Bunga Terate
- Bermakna kepribadian yang luhur
7. Bunga terate mekar, setengah mekar dan kuncup.
- Bermakna dalam bersaudara tidak membeda-bedakan latar belakang
8. Senjata silat
- Bermakna pencak silat sebagai benteng Persaudaraan.
9. Garis putih tegak lurus ditengah-tengah merah
- Bermakna berani karena benar, takut karena salah
10. Persaudaraan Setia Hati Terate
- Bermakna mengutamakan hubungan antar sesama yang tumbuh dari hati yang tulus, ikhlas, dan bersih.
- Apa yang dikatakan keluar dari hati yang tulus.
- Kepribadian yang luhur.
11. Hati putih bertepi merah terletak ditengah-tengah lambang
- Bermakna netral
SEJARAH PSHT
SELAMA MATAHARI MASIH TERBIT DARI TIMUR, SELAMA BUMI MASIH DIHUNI
MANUSIA SELAMA ITU PULA PERSAUDARAAN SETIA HATI TERATE AKAN TETAP JAYA
ABADI SELAMANYA
“KI HADJAR HARDJO OETOMO” Pendiri Persaudaraan Setia Hati Terate.
Sejarah Persaudaraan Setia Hati
Pada tahun 1903, bertempat di Kampung Tambak Gringsing, Surabaya, Ki
Ngabeni Surodiwirjo membentuk persaudaraan yang anggota keluarganya
disebut “Sedulur Tunggal Ketjer”, sedangkan permainan pencak silatnya
disebut “Djojo Gendilo”
Tahun 1912, Ki Ngabeni Surodiwirjo berhenti bekerja karrena merasa
kecewa disebabkan seringkali atasannya tidak menepati janji. Selain itu
suasana mulai tidak menyenangkan karena pemeintah Hindia Belanda menaruh
curiga; mengingat beliau pernah melempar seorang pelaut Belanda ke
sungai dan beliau telah membentuk perkumpulan pencak silat sebagai alat
pembela diri, ditambah pula beliau adalah seorang pemberani, Pemerintah
Hindia Belanda mulai kwatir, beliau akan mampu membentuk kekuatan bangsa
Indonesia dan menentang mereka. Setelah keluar dari pekerjaannya,
beliau pergi ke Tegal.
Tahun 1914, Ki Ngabehi Surodiwirjo kembali ke Surabaya dan bekerja di
Djawatan Kereta Api Kalimas, dan tahun 1915 pindah ke bengkel Kereta Api
Madiun. Disini beliau mengaktifkan lagi Persaudaraan yang telah
dibentuk di Surabaya, yaitu “Sedulur Tunggal Ketjer”, hanya pencak
silatnya sekarang disebut “Djojo Gendilo Tjipto Muljo”. Sedangkan pada
tahun 1917, nama – nama tersebut disesuaikan denngan keadaan zaman
diganti menjadi nama “Perssaudaan Setia Hati”
Ki Hadjar Hardjo Oetomo
Salah satu murud Ki Ngabehi Surodiwirjo yang militan dan cukup tangguh,
yaitu Ki Hadjar Hardjo Oetomo mempunyai pendapat perlunya suatu
organisasi untuk mengatur dan menertibkan personil maupun materi
pelajaran Setia Hati, untuk itu beliau meohon doa restu kepada Ki
Ngabehi Surodiwirjo. Ki Ngabehi Surodiwirjo memberi doa restu atas
maksud tersebut., karena menurut pendapat beliau hal – hal seperti itu
adalah tugas dan kewajiban anak muridnya, sedangkan tugas beliau
hanyalah “menurunkan ilmu SH”. Selain itu Ki Ngabehi Surodiwirjo
berpesan kepada Ki Hadjar Hardjo Oetomo agar jangan memakai nama SH
dahulu.
Setelah mendapat ijin dari Ki Ngabehi Surodiwirjo, Ki Hadjar Hardjo
Oetomo pada tahun 1922 mengembangkan ilmu SH dengan nama Pencak Silat
Club (P. S. C).
Karena Ki hadjar Hardjo Oetomo adalah orang SH, dan ilmu yang diajarkan
adalah ilmu SH, maka lama – kelamaan beliau merasa kurang sreg
mengembangkan ilmu SH dengan memakai nama lain, bukan nama SH. Kembali
beliau menghadap Ki Ngabehi Surodiwirjo menyampaikan uneg – unegnya
tersebut dan sekalian mohon untuk diperkenankan memakai nama SH dalam
perguruannya. Oleh Ki Ngabehi Surodiwirjo maksud beliau direstui, dengan
pesan jangan memakai nama SH saja, agar ada bedanya. Maka Pencak Silat
Club oleh Ki Hadjar Hardjo Oetomo diganti dengan nama “SETIA HATI MUDA”
(S. H. M).
Peranan Ki Hadjar Hardjo Oetomo Sebagai Perintis Kemerdekaan
Ki Hadjar Hardjo Oetomo mengembangkan ilmu SH di beberapa perguruan yang
ada pada waktu antara lain perguruan Taman Siswo, Perguruan Boedi
Oetomo dan lain – lain. Dalam mengajarkan ilmu SH beliau diantaranya
adalah menamakan suatu sikap hidup, ialah “kita tidak mau menindas orang
lain dan tidak mau ditindas oleh orang lain”. Walaupun pada waktu itu
setiap mengadakan latihan tidak bisa berjalan lancar, karena apabila ada
patroli Belanda lewat mereka segera bersembunyi; tetapi dengan dasar
sikap hidup tersebut murid – murid beliau akhirnya menjadi pendekar –
pendekar bangsa yang gagah berani dan menentang penjajah kolonialisme
Belanda. Dibandingkan keadaan latihan masa lalu yang berbeda dengan
keadaan latihan saat ini, seharusnya murid – murid SH lebih baik mutu
dan segalanya dari pada murid – murid SH yang lalu. Melihat sepak
terjang murid – murid Ki Hadjar Hardjo Oetomo yang dipandang cukup
membahayakan, maka Belanda segera menangkap Ki Hadjar Hardjo Oetomo
bersama beberapa orang muridnya, dan selanjutnya dibuang ke Digul.
Pembuangan Ki Hadjar Hadjo Oetomo ke Digul berlangsung sampai dua kali,
karena tidak jera – jeranya beliau mengobarkan semangat perlawanan
menentang penjajah.
Selain membuang Ki Hadjar hardjo Oetomo ke Digul, Pemerintah Hindia
Belanda yang terkenal dengan caranya yang licik telah berusaha
memolitisir SH Muda dengan menjuluki SHM bukan SH Muda, melainkan SH
Merah; Merah disini maksudnya adalah Komunis. Dengan demikian pemerintah
Belanda berusaha menyudutkan SH dengan harapan SH ditakuti dan dibenci
oleh masyarakat dan bangsa Indonesia. Menanggapi sikap penjajah Belanda
yang memolitisir nama SH Muda dengan nama SH Merah, maka Ki Hadjar
Hardjo Oetomo segera merubah nama SH Muda menjadi “Persaudaan Setia Hati
Terate” hingga sampai sekarang ini.
Melihat jasa – jasa Ki Hadjar Hardjo Oetomo tersebut, maka pemerintah
Indonesia mengakui beliau sebagai “Pahlawan Perintis Kemerdekaan” , dan
memberikan uang pensiun setiap bulan sebesar Rp. 50.000,00 yang
diterimakan kepada isteri beliau semasa masih hidup.
Setelah meninggal dunia, beliau dimakamkan di makam “Pilangbango”, yang
terlatak di sebelah Timur Kota Madiun, dari Terminal Madiun menuju
ke arah Timur. Beliau mempunyai 2 (dua) orang putra, yaitu seorang putri
yang diperisteri oleh bapak Gunawan, dan Seorang putra yang bernama
bapak “Harsono” sekarang berkediaman di jalan Pemuda no. 17 Surabaya.
Ibu Hardjo Oetomo meninggal pada bulan September 1986 di tempat
kediamannya, di desa Pilangbango Madiun.
Rumah beliau, oleh Bapak Harsono dihibahkan kepada Persaudaraan Setia
Hati Terate pada akhir tahun 1987 dengan harga Rp. 12,5 juta. Rencana
Pengurus Pusat, bekas rumah kediaman pendiri Persaudaraan SH Terate
tersebut akan dipugar menjadi “Museum SH Terate” agar generasi penerus
bisa menyaksikan peninggalan pendahulu – pendahulu kita sejak berdiri
sampai dengan perkembangannya saat ini